Tuan Fiksi

Oleh: Hilma Aufiana

Bagaimana kalau kita masuk ke dalam desa-desa L.M Montgomery? Kamu bisa jadi seorang petani sekaligus peternak sapi sedangkan aku di rumah memanggang roti. Aku akan menyambutmu pulang dengan senyuman dan menyiapkanmu makan malam. Setelah itu, kita bisa piknik di dekat danau dan memandangi angsa-angsa. Tetapi katamu, aku terlalu imajiner dan mendramatisir dunia. Katamu, berpikir realistis saja. Dunia fiksi bukan dunia nyata. Iya, kah? Aku ingin mencuri waktumu. Barang sejenak, barang lima menit di setiap jam. Aku ingin sekali kamu mengalihkan mata dari layar yang penuh kata-kata. Bukankah mataku lebih berkata dari jurnal yang kaubaca? Aku tahu, aku tahu, aku tahu, Tuan. Kamu perlu membaca jurnal ini itu, membuat esai sebegini sebegitu, menjawab soal ini dan anu. Tapi, tidak bisakah kita berselancar sejenak ke pantai-pantai yang diciptakan L.M Montgomery? Katamu, aku juga harus mengikuti caramu dengan menyibukkan diri sepanjang waktu. Biar tidak berpikiran aneh. Biar tidak berpikiran untuk menjadi Elizabeth Bennet dan menjadikanmu Mr. Darcy. Pride and Prejudice karya Jane Austen lagi. Katamu, aku terlalu meromantisasi. Dan di sini, untuk ke sekian kalinya aku menuliskanmu dalam sebuah puisi. Bisakah ini disebut puisi?

Di Bawah Enam Kaki – Deel 1

Oleh: Baihaqi Hakim

“Ke manakah kita akan pergi?” Hannetje bertanya.

Hutan yang mereka telusuri sungguh sangatlah lebat; bagai rambut yang tumbuh di atas kepala mereka. Flora dan fauna menghiasi hutan yang serasa tiada ujungnya. Hari-hari yang mereka habiskan di hutan tak dapat dihitung banyaknya. Basah hujan dan panas terik bergantian memandikan mereka. Perbekalan mereka masih sedikit berlimpah, terima kasih kepada keahlian melempar pisau Han dan pendengaran yang tajam milik Hans.

“Mencari tempat berlindung yang nyaman dan indah,” jawab Han untuk kesekian kalinya. Tak ada yang bisa dilakukannya atas ketidaktahuan si kecil Hannetje. Kemudian, giliran dia yang bertanya “Apa benar jika pistolku ini belum saatnya untuk dipakai?”

“Jangan dulu. Suara kerasnya dapat menarik hewan buas. Kau tahu itu,” jawaban dari Hans sangatlah jelas.

Tungkai-tungkai lemah mereka dipaksa untuk melangkah lebih jauh, menghindari sarang hewan buas lebih jauh lagi. Apa yang dilihat oleh mata mereka hanyalah sekumpulan kayu yang menjulang dari tanah, menumbuhkan dedaunan hijau, dan menghasilkan buah-buah yang kaya akan kenikmatan.

“Hei, apakah itu menara?” tanya Han, “kita bisa istirahat sejenak. Kurasa sebentar lagi kita akan mencapai tujuan.”

Menara berwarna putih yang dilihatnya menjulang di antara pepohonan. Mereka melangkah lebih cepat hingga keluar dari lebatnya pepohonan, menuju tanah luas. Mereka bertiga mencapai sebuah pondokan berwarna putih, menempel dengan menara. Di samping menara, sebuah kincir air berwarna coklat sedang diputar oleh air untuk menggiling bahan-bahan. Sebuah lentera tergantung di atap teras, memancarkan api kuning-merah.

“Kita bisa memasukinya,” ucap si kecil Hannetje.

“Apakah tiada orang yang menempatinya?” Hans bertanya. “Kita harus tetap berjaga.”

Han berjalan menghampiri pintu berkenop logam yang memisah daerah luar dan dalam bangunan. Dia menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri, memeriksa keadaan di sekitar. Setelah memastikannya, tangannya mulai memutar kenop—awalnya ke kiri dan kemudian ke kanan. Dengan tenaga kecil, Han mendorong pintu tersebut terbuka. Dua kursi dan sebuah meja bundar setinggi setengah badannya hadir di depan matanya, di sisi kiri ruangan. Sebuah piring tergeletak di atasnya, mewadahi dua ekor ikan yang telah dipanggang.

Han memberi isyarat kepada yang lainnya untuk masuk. Mereka bertiga masuk lebih dalam menuju ruangan. Selain meja dan kursi-kursi, ruangan itu mempunyai cerobong asap, lemari kaca, dan lukisan tiga anak kecil dengan satu senyum di tiap wajah mereka. Hannetje menghampiri lemari kaca di sisi kanan rumah. Lemari itu menyimpan banyak barang seperti piring, gelas, dan dua boneka kayu. Matanya terpaku kepada boneka kayu. Dua boneka berbentuk manusia itu memiliki kulit berwarna putih dengan hidung panjang. Boneka perempuan menggunakan baju berwarna biru kotak-kotak berkancing dengan rambut keriting berwarna coklat memanjang hingga bahu. Yang laki-laki memakai baju merah muda dengan tiga kancing di dekat leher. Rambutnya berwarna hitam.

Hans mendekati meja berpiring tersebut. Asap kecil masih membumbung dari tubuh sang ikan. Hans bersigap seketika, “Hey, ikan ini baru dibakar. Pemiliknya mesti baru saja membakarnya dan mungkin sedang keluar. Tetap waspada.”

Han yang berada di mulut pintu masih memandang seisi rumah, khususnya ruangan utama. Dia langsung bersiap, mengambil langkah siaga, memasang mata waspada. Hannetje masih terpaku pada barang yang di dalam lemari. Dia memanggil Hans dengan santai, layaknya anak kecil, “Tolong ambilkan boneka itu.” Jarinya menunjuk ke arah lemari.

Suara Hannetje mengagetkan dua lainnya. Jari telunjuk kanan Hans terangkat menyentuh bibirnya sendiri; mengisyaratkan untuk diam namun terlambat. Seorang lelaki paruh baya hadir, masuk melalui pintu depan. Tangannya menyentuh pundak kanan Han; membuatnya kaget seketika. Semua bertiga bersiaga. Reaksi ini ditanggapi oleh si lelaki dengan menggerakkan kedua tangannya, menandakan untuk tidak khawatir. Si lelaki berjalan menuju lemari yang sebelumya ditunjuk oleh Hannetje. Dia membukanya dan mengambil dua boneka kayu laki-laki dan perempuan itu. Di bagian belakang boneka, terdapat rongga untuk menggerakkan sang boneka. Sang lelaki adalah seorang ventriloquist, setidaknya itu yang Hans pikirkan.

“Maafkan kami telah membuat kalian terkejut,” sebuah suara keluar dari mulut, memperkenalkan diri. “Nama dia Siebren dan temanku ini Olivië. Aku sendiri adalah Pepin.”

Han, Hans, dan Hannetje mulai kebingungan. Sang lelaki tak menunjukkan pergerakan di mulutnya. Sang bonekalah yang berucap. Boneka laki-laki. “Beragam kisah telah membangun hidupnya pria aneh ini. Bukan begitu, Olivië?”

“Kau benar, Pepin,” sahut Olivië si boneka perempuan. “Siebren adalah seorang pembunuh mematikan sebelum dia hidup seperti ini.”

Masa lalu adalah alasan Siebren melakukannya. Melihat dirinya dan ibundanya diperlakukan tak pantas oleh ayahnya membuat hatinya terluka. Melihat sang ayah melempar ibunya ke dasar jurang membuat hatinya hancur tak bersisa. Melihat ayahnya tewas keracunan membuat sesimpul senyum di wajahnya. Hampir seluruh korbannya adalah para orang tua yang berlaku kejam kepada anaknya seperti menelantarkan dan menganiayanya. Kecermatan membuatnya selalu waspada akan segala hal. Kepandaiannya dalam mendengar desas-desus berhasil mengumpulkan para sasaran dengan rapih. Ketetapan membunuh datang jika si calon korban terbukti melakukannya. Tak ada hukuman yang dapat menghukumnya selain main hakim sendiri.

Di saat pencariannya masih gencar dilakukan, panti-panti asuhan mulai kedatangan sekumpulan karung berisi uang, uang yang banyak, dan beberapa anak yatim piatu korban kekerasan. Mereka pun mulai mengembangkan lembaga mereka seperti memperluas bangunan, berbisnis, dan bantuan pendidikan. Panti asuhan, yang dulu membutuhkan, sekarang menjadi yang dibutuhkan oleh orang-orang.

Hingga lima tahun lalu, Siebren bersembunyi di dalam pepohonan; seorang bangsawan dan istrinya sebagai sasaran selanjutnya. Mereka berdua dikawal oleh beberapa personil bersenjata. Pistol telah dikokang, dibidik, dan pelatuk siap ditarik oleh tangan kiri Siebren. Namun, sebuah peluru terlebih dulu melesat ke tangannya, melepas dan menjatuhkan pistolnya ke tanah. Dia melihat kesana-kemari, mencari si penembak. Tangan kanannya masih menahan rasa sakit di bagian kirinya. Suara tembakan menggelegar tadi menarik perhatian rombongan. Mereka segara menghampiri asal suara itu.

“Lihat apa yang kita dapat, Tuanku,” saut salah satu pengawal. “Sang hantu.”

“Penyihir, kau tahu apa yang harus kau lakukan,” perintah sang bangsawan.

Satu di antara para pengawal maju, berjalan dengan santai. Rapalan mantra pun dimulai.

BERSAMBUNG

Flying Dutchman, Tokoh Kartun Yang Terinspirasi dari Mitos Arwah Gentayangan Pelaut Belanda

Oleh: Ozora Noor, mahasiswa Sastra Belanda 2020

Spongebob SquarePants, siapa yang tidak kenal dengan serial kartun yang mengisahkan petualangan spons kuning di kota fiksi bawah laut bernama Bikini Bottom. Kartun yang turut menemani masa kecil kita ini memiliki banyak karakter di dalamnya, salah satunya adalah Flying Dutchman. Tahukah kamu, karakter yang digambarkan sebagai arwah pelaut berwarna hijau, memancarkan cahaya hijau, dan melayang ini diambil dari kisah legenda pelaut Belanda sungguhan? Yuk, simak kisah dibalik karakter hantu pelaut yang tergolong humoris ini!

Dikutip dari screenrant.com, karakter Flying Dutchman pertama kali muncul di layar kaca pada tahun 1999 dalam serial kartun Spongebob SquarePants episode “Squidward the Unfriendly Ghost”. Dalam episode tersebut, tidak dikisahkan lebih lanjut terkait bagaimana kemunculan karakter hantu pelaut hijau yang melayang ini, namun yang menarik adalah kita bisa mengetahuinya melalui cerita legenda pelaut Belanda yang bernama sama, The Flying Dutchman.

Legenda The Flying Dutchman ini tidak hanya digambarkan pada serial kartun Spongebob SquarePants, namun juga dalam Film Pirates of the Caribbean produksi Walt Disney Pictures. Banyak versi yang mengisahkan Flying Dutchman (De Vliegende Hollander) ini. Nama Flying Dutchman sendiri bukanlah merujuk kepada nama seseorang melainkan nama kapal.

Menurut Agnes Andeweg, profesor sastra di University College Utrecht, mitos ini diperkirakan muncul pada akhir abad ke-18, era kemunduran maritim Belanda dan bangkrutnya VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Konon, dikisahkan bahwa De Vliegende Hollander adalah kapal Belanda yang karam di Tanjung Harapan ketika hendak ingin berlayar ke pulau Jawa. Seluruh kru kapal beserta sang kapten, Van Der Decken, tidak selamat dalam peristiwa mengenaskan itu.

Menurut versi lain, dikutip dari Blackwood’s Edinburgh Magazine edisi Mei 1821, dikarenakan arwah kapten De Vliegende Hollander yang tidak terima atas kematiannya, ia menulis surat untuk orang-orang yang sudah mati dan dikirim ke kapal-kapal lain. Barangsiapa yang menerima surat tersebut, Van Der Decken bersumpah untuk tetap mengitari Tanjung Harapan tanpa berlabuh di manapun, meskipun itu di akhirat untuk menebar kemalangan bagi siapapun yang menerima suratnya.

“At the heart of every legend, there is a grain of truth,” Michael Scott, dalam bukunya The Alchemyst

Legenda Flying Dutchman sangat menarik untuk dibahas. Meskipun tidak ada bukti literatur yang jelas mengenai keberadaannya yang nyata , kisah-kisah hantu laut yang entah itu sungguhan atau hanyalah fenomena fatamorgana yang dialami pelaut pada zaman itu tentu masih menyisakan rasa penasaran untuk kita semua.

Daftar Pustaka:

Andeweg, Agnes. (2015). Manifestations of the Flying Dutchman: On Materializing Ghosts and (Not) Remembering the Colonial Past. Cultural History. 4. 187-205.10.3366/cult.2015.0093.

Tyler, A. (2021, February 13). SpongeBob SquarePants: The Flying Dutchman’s Backstory Explained. Retrieved November 25, 2021, from ScreenRant website: https://screenrant.com/spongebob-squarepants-flying-dutchman-ship-history-legend-explained/

Kisah Flying Dutchman, Kapal Era VOC yang Tak Pernah Bisa Berlabuh – Semua Halaman – National Geographic. (2021). Retrieved November 25, 2021, from National Geographic website: https://nationalgeographic.grid.id/read/132868673/kisah-flying-dutchman-kapal-era-voc-yang-tak-pernah-bisa-berlabuh?page=all

Flying Dutchman. (2021). Retrieved November 25, 2021, from SpongeBob SquarePants Wiki website: https://spongebob.fandom.com/id/wiki/Flying_Dutchman

“Palsu”

Oleh: Nastiti

.

Genggaman hangat darimu malam itu

Kedua matamu menatapku, semuanya baik-baik saja?

Terpancar senyumku kepadamu

Bukanlah senyuman tulen

.

Ragu mengetuk hatimu, benarkah?

Tawa kecil ku layangkan

Kau memeluk ku dengan erat

Seraya membisikkan ucapan syukur kepada-Nya

.

Sudahlah, tak perlu memberi hati pada diri ini

Biarkan aku tersedu dalam diam

Hilang dalam kesunyian

Aku baik-baik saja

Kolonialisme Belanda di Suriname dan Migrasi Orang Jawa

Oleh: Nabiel Fakriyah Zaldi (prodi Ilmu Sejarah)

Bila kita melihat kolonialisme Belanda, banyak yang membahas bahwa Belanda hanya memiliki wilayah di Indonesia. Selain Indonesia, Belanda juga menjajah sebuah negara kecil yang bernama Suriname. Pada awalnya, Suriname diperebutkan tak hanya oleh Belanda, namun juga oleh Inggris. Tetapi, Belanda pada akhirnya menguasai Suriname pada tahun 1800-an.

Bila kita melihat kondisi geografis dari Suriname, terdapat sumber daya alam yang sangat kaya dan juga subur. Masalah terjadi saat pemerintah Belanda mengalami kekurangan sumber daya manusia. Karena hal inilah akhirnya pemerintah Kolonial Belanda melakukan transmigrasi penduduk Jawa ke Suriname. Orang Jawa dipilih oleh Kolonial Belanda karena Pulau Jawa memiliki wilayah yang subur sama seperti Suriname. Maka, akan lebih mudah wilayah yang subur seperti Suriname dilakukan oleh orang Jawa. Di sisi lain juga terdapat masalah kepadatan dan kemiskinan yang terjadi di Pulau Jawa.

Orang Jawa yang berada di Suriname tetap tidak meninggalkan kebudayaannya. Seperti misalnya lagu-lagu Jawa yang masih sering didengar oleh masyarakat Jawa Suriname. Hal tersebut terjadi sampai sekarang; banyak karya seni Jawa yang terkenal di Suriname. Mengamati karya seni tak terkecuali lirik lagu maupun karya sastra sebagai representasi dunia ketiga dalam perspektif Bhabha, menarik dilakukan untuk memahami representasi budaya masyarakat Jawa Suriname sebagai diaspora Jawa yang keberadaannya diakibatkan oleh kolonialisme.

Orang Jawa yang berada di Suriname banyak yang kecewa dengan Pemerintah Kolonial Belanda. Mereka dijanjikan untuk merubah nasib di Suriname, tetapi mereka sulit untuk kembali ke kampung halaman mereka. Banyak orang Jawa yang menolak untuk berangkat ke Suriname akhirnya dibohongi dan diculik oleh pemerintah kolonial. Bila di Pulau Jawa hanya mendapatkan upah sebesar 33 sen, di Suriname mereka dijanjikan sebesar 60 sen per hari; tentunya banyak yang tergiur dengan upah yang dua kali lipat lebih banyak daripada di Jawa. Mereka juga mendapatkan banyak peralatan-peralatan dari pemerintah.

Janji Belanda tersebut tidak seluruhnya terealisasikan. Banyak orang Jawa yang akhirnya di diskriminasi oleh pemerintah Kolonial Belanda. Perlakuan buruk terhadap para indentured laborers bukan suatu hal yang tidak biasa. Mereka kerap dianggap rendah dan mendapat perlakuan yang kejam. Kondisi tersebut terutama dialami oleh suku Jawa karena tidak ada peraturan yang melindungi mereka. Walaupun tidak ada diskriminasi secara tertulis, namun terkadang mereka merasa menjadi warga yang dianaktirikan oleh Belanda. Pemerintah Belanda dianggap lebih mendahulukan kepentingan bangsa lain dibandingkan kepentingan dari suku Jawa. Kondisi-kondisi tersebut tentu saja mengecewakan para pekerja kontrak dari Jawa di Suriname karena mereka merasa telah ikut membantu Pemerintah Belanda dalam membangun Suriname. Rasa kecewa akan perlakuan tidak baik dari suku Creol terhadap suku Jawa sejak tahun 1890 hingga tahun 1946 serta rasa diskriminasi dari pemerintah Belanda, ikut mendorong mereka untuk pulang ke tanah air.

Daftar Pustaka:

Susanti. (2016). Nasionalisme dan Gerakan Mulih Njowo, 1947 dan 1954. 1(2), 110-113.

Sulistyo, Harry, Panji Satrio Binangun, Endang Sartika. (2020). HIBRIDITY, NATION, AND NOSTALGIC ASPECT: POSTCOLONIAL REPRESENTATION IN JAVANESE SURINAME SONG’S LYRICS. 10(3), 10.

Politik Etis: Menguntungkan atau Merugikan Kolonial Belanda?

Oleh: Nabiel Fakriyah Zaldi (Prodi Ilmu Sejarah)

Kebijakan Politik Etis adalah kebijakan politik balas budi pemerintah Hindia Belanda kepada masyarakat bumiputera (pribumi) yang berada di Hindia Belanda. Ketika Raja William III meninggal dunia, Dinasti Orange-Nassau jatuh kepada Putri Wilhelmina (1880-1962). Ratu Wilhelmina tidak hanya berdaulat atas negara Belanda, tetapi juga negara jajahan Belanda yaitu Hindia Belanda di timur jauh.

Kebijakan Politik Etis ini mulai mendapatkan tanggapan dari pemerintah Belanda saat pertama kali sang Ratu menyampaikan pidato pertamanya pada tahun 1901 yaitu: sang Ratu akan menerapkan kebijakan Politik Etis, dikarenakan Kerajaan Belanda memiliki sebuah tanggung jawab moral kepada penduduk pribumi di Hindia Belanda. Kebijakan ini mengganti kebijakan dari Raja William III tentang Cultuurstelsel atau Sistem Tanam Paksa yang terjadi selama tahun 1830-1915.

Karena tanam paksa tersebut, negara jajahan terus dikuras kekayaannya. Saat tanam paksa, Raja William III mempercayakan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Van den Bosch. Tanam paksa dihentikan karena munculnya berbagai macam kritik yang dikeluarkan Agrarische Wet 1870 dan Suikerwet (UU Agraria dan Gula
1870). Saat pidato pertama Ratu Wilhelmina, ia menegasakan bahwa Belanda menuangkan panggilan moral tersebut dalam tiga program Trias Van Deventer, yaitu Irigasi (Pengairan), Imigrasi, dan Edukasi.

Namun, dengan adanya Politik Etis, banyak penyimpangan yang dilakukan oleh pegawai Belanda. Seperti Pendidikan bagi pribumi hanya terbatas untuk anak pegawai, lurah, dan tuan tanah. Walaupun begitu, Politik Etis tetap membuat bumiputera memperoleh Pendidikan.

Kebijakan ini yang nanti nya akan melahirkan tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia seperti Soekarno, Hatta, Tan Malaka, HOS Tjokroaminoto, dan RA Kartini. Dengan adanya akses Pendidikan yang didapatkan dari Politik Etis, masyarakat bumiputera mulai menyadari dan tergerak untuk melawan penjajahan Kolonial.

Akibat dari politik ini, Belanda didesak untuk mundur dari bumipertiwi. Banyak dari tokoh-tokoh sipil pejuang kemerdekaan Indonesia merupakan hasil dari program Politik Etis. Bahkan, Soekarno dan Hatta yang kelak menjadi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia mendapatkan Pendidikan karena adanya Politik Etis.

Maka, Politik Etis yang awalnya dilakukan Belanda untuk balas budi dan mendapat pegawai pribumi. Yang terjadi adalah adanya kesadaran nasional untuk melawan penjajah dan memerdekakan diri.

Daftar Pustaka :

Raharja Ucu, Karta. (2017). Politik Etis Ratu Wilhemina dan Tanam Paksa yang Menyiksa Pribumi. Republika.co.id. Diakses dari https://www.republika.co.id/berita/p07kvn282/politik- etis-ratu-wilhemina-dan-tanam-paksa-yang-menyiksa-pribumi-part1

Matanasi, Petrik. (2018). Sejarah Hidup Wilhelmina, Ratu Belanda yang Tak Rela RI Merdeka. Tirto.id. Diakses dari https://tirto.id/sejarah-hidup-wilhelmina-ratu-belanda-yang-tak-rela-ri- merdeka-cvZu