Di Bawah Enam Kaki – Deel 1

Oleh: Baihaqi Hakim

“Ke manakah kita akan pergi?” Hannetje bertanya.

Hutan yang mereka telusuri sungguh sangatlah lebat; bagai rambut yang tumbuh di atas kepala mereka. Flora dan fauna menghiasi hutan yang serasa tiada ujungnya. Hari-hari yang mereka habiskan di hutan tak dapat dihitung banyaknya. Basah hujan dan panas terik bergantian memandikan mereka. Perbekalan mereka masih sedikit berlimpah, terima kasih kepada keahlian melempar pisau Han dan pendengaran yang tajam milik Hans.

“Mencari tempat berlindung yang nyaman dan indah,” jawab Han untuk kesekian kalinya. Tak ada yang bisa dilakukannya atas ketidaktahuan si kecil Hannetje. Kemudian, giliran dia yang bertanya “Apa benar jika pistolku ini belum saatnya untuk dipakai?”

“Jangan dulu. Suara kerasnya dapat menarik hewan buas. Kau tahu itu,” jawaban dari Hans sangatlah jelas.

Tungkai-tungkai lemah mereka dipaksa untuk melangkah lebih jauh, menghindari sarang hewan buas lebih jauh lagi. Apa yang dilihat oleh mata mereka hanyalah sekumpulan kayu yang menjulang dari tanah, menumbuhkan dedaunan hijau, dan menghasilkan buah-buah yang kaya akan kenikmatan.

“Hei, apakah itu menara?” tanya Han, “kita bisa istirahat sejenak. Kurasa sebentar lagi kita akan mencapai tujuan.”

Menara berwarna putih yang dilihatnya menjulang di antara pepohonan. Mereka melangkah lebih cepat hingga keluar dari lebatnya pepohonan, menuju tanah luas. Mereka bertiga mencapai sebuah pondokan berwarna putih, menempel dengan menara. Di samping menara, sebuah kincir air berwarna coklat sedang diputar oleh air untuk menggiling bahan-bahan. Sebuah lentera tergantung di atap teras, memancarkan api kuning-merah.

“Kita bisa memasukinya,” ucap si kecil Hannetje.

“Apakah tiada orang yang menempatinya?” Hans bertanya. “Kita harus tetap berjaga.”

Han berjalan menghampiri pintu berkenop logam yang memisah daerah luar dan dalam bangunan. Dia menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri, memeriksa keadaan di sekitar. Setelah memastikannya, tangannya mulai memutar kenop—awalnya ke kiri dan kemudian ke kanan. Dengan tenaga kecil, Han mendorong pintu tersebut terbuka. Dua kursi dan sebuah meja bundar setinggi setengah badannya hadir di depan matanya, di sisi kiri ruangan. Sebuah piring tergeletak di atasnya, mewadahi dua ekor ikan yang telah dipanggang.

Han memberi isyarat kepada yang lainnya untuk masuk. Mereka bertiga masuk lebih dalam menuju ruangan. Selain meja dan kursi-kursi, ruangan itu mempunyai cerobong asap, lemari kaca, dan lukisan tiga anak kecil dengan satu senyum di tiap wajah mereka. Hannetje menghampiri lemari kaca di sisi kanan rumah. Lemari itu menyimpan banyak barang seperti piring, gelas, dan dua boneka kayu. Matanya terpaku kepada boneka kayu. Dua boneka berbentuk manusia itu memiliki kulit berwarna putih dengan hidung panjang. Boneka perempuan menggunakan baju berwarna biru kotak-kotak berkancing dengan rambut keriting berwarna coklat memanjang hingga bahu. Yang laki-laki memakai baju merah muda dengan tiga kancing di dekat leher. Rambutnya berwarna hitam.

Hans mendekati meja berpiring tersebut. Asap kecil masih membumbung dari tubuh sang ikan. Hans bersigap seketika, “Hey, ikan ini baru dibakar. Pemiliknya mesti baru saja membakarnya dan mungkin sedang keluar. Tetap waspada.”

Han yang berada di mulut pintu masih memandang seisi rumah, khususnya ruangan utama. Dia langsung bersiap, mengambil langkah siaga, memasang mata waspada. Hannetje masih terpaku pada barang yang di dalam lemari. Dia memanggil Hans dengan santai, layaknya anak kecil, “Tolong ambilkan boneka itu.” Jarinya menunjuk ke arah lemari.

Suara Hannetje mengagetkan dua lainnya. Jari telunjuk kanan Hans terangkat menyentuh bibirnya sendiri; mengisyaratkan untuk diam namun terlambat. Seorang lelaki paruh baya hadir, masuk melalui pintu depan. Tangannya menyentuh pundak kanan Han; membuatnya kaget seketika. Semua bertiga bersiaga. Reaksi ini ditanggapi oleh si lelaki dengan menggerakkan kedua tangannya, menandakan untuk tidak khawatir. Si lelaki berjalan menuju lemari yang sebelumya ditunjuk oleh Hannetje. Dia membukanya dan mengambil dua boneka kayu laki-laki dan perempuan itu. Di bagian belakang boneka, terdapat rongga untuk menggerakkan sang boneka. Sang lelaki adalah seorang ventriloquist, setidaknya itu yang Hans pikirkan.

“Maafkan kami telah membuat kalian terkejut,” sebuah suara keluar dari mulut, memperkenalkan diri. “Nama dia Siebren dan temanku ini Olivië. Aku sendiri adalah Pepin.”

Han, Hans, dan Hannetje mulai kebingungan. Sang lelaki tak menunjukkan pergerakan di mulutnya. Sang bonekalah yang berucap. Boneka laki-laki. “Beragam kisah telah membangun hidupnya pria aneh ini. Bukan begitu, Olivië?”

“Kau benar, Pepin,” sahut Olivië si boneka perempuan. “Siebren adalah seorang pembunuh mematikan sebelum dia hidup seperti ini.”

Masa lalu adalah alasan Siebren melakukannya. Melihat dirinya dan ibundanya diperlakukan tak pantas oleh ayahnya membuat hatinya terluka. Melihat sang ayah melempar ibunya ke dasar jurang membuat hatinya hancur tak bersisa. Melihat ayahnya tewas keracunan membuat sesimpul senyum di wajahnya. Hampir seluruh korbannya adalah para orang tua yang berlaku kejam kepada anaknya seperti menelantarkan dan menganiayanya. Kecermatan membuatnya selalu waspada akan segala hal. Kepandaiannya dalam mendengar desas-desus berhasil mengumpulkan para sasaran dengan rapih. Ketetapan membunuh datang jika si calon korban terbukti melakukannya. Tak ada hukuman yang dapat menghukumnya selain main hakim sendiri.

Di saat pencariannya masih gencar dilakukan, panti-panti asuhan mulai kedatangan sekumpulan karung berisi uang, uang yang banyak, dan beberapa anak yatim piatu korban kekerasan. Mereka pun mulai mengembangkan lembaga mereka seperti memperluas bangunan, berbisnis, dan bantuan pendidikan. Panti asuhan, yang dulu membutuhkan, sekarang menjadi yang dibutuhkan oleh orang-orang.

Hingga lima tahun lalu, Siebren bersembunyi di dalam pepohonan; seorang bangsawan dan istrinya sebagai sasaran selanjutnya. Mereka berdua dikawal oleh beberapa personil bersenjata. Pistol telah dikokang, dibidik, dan pelatuk siap ditarik oleh tangan kiri Siebren. Namun, sebuah peluru terlebih dulu melesat ke tangannya, melepas dan menjatuhkan pistolnya ke tanah. Dia melihat kesana-kemari, mencari si penembak. Tangan kanannya masih menahan rasa sakit di bagian kirinya. Suara tembakan menggelegar tadi menarik perhatian rombongan. Mereka segara menghampiri asal suara itu.

“Lihat apa yang kita dapat, Tuanku,” saut salah satu pengawal. “Sang hantu.”

“Penyihir, kau tahu apa yang harus kau lakukan,” perintah sang bangsawan.

Satu di antara para pengawal maju, berjalan dengan santai. Rapalan mantra pun dimulai.

BERSAMBUNG

Geef een reactie

Het e-mailadres wordt niet gepubliceerd. Vereiste velden zijn gemarkeerd met *