Di Bawah Enam Kaki – Deel 1

Oleh: Baihaqi Hakim

“Ke manakah kita akan pergi?” Hannetje bertanya.

Hutan yang mereka telusuri sungguh sangatlah lebat; bagai rambut yang tumbuh di atas kepala mereka. Flora dan fauna menghiasi hutan yang serasa tiada ujungnya. Hari-hari yang mereka habiskan di hutan tak dapat dihitung banyaknya. Basah hujan dan panas terik bergantian memandikan mereka. Perbekalan mereka masih sedikit berlimpah, terima kasih kepada keahlian melempar pisau Han dan pendengaran yang tajam milik Hans.

“Mencari tempat berlindung yang nyaman dan indah,” jawab Han untuk kesekian kalinya. Tak ada yang bisa dilakukannya atas ketidaktahuan si kecil Hannetje. Kemudian, giliran dia yang bertanya “Apa benar jika pistolku ini belum saatnya untuk dipakai?”

“Jangan dulu. Suara kerasnya dapat menarik hewan buas. Kau tahu itu,” jawaban dari Hans sangatlah jelas.

Tungkai-tungkai lemah mereka dipaksa untuk melangkah lebih jauh, menghindari sarang hewan buas lebih jauh lagi. Apa yang dilihat oleh mata mereka hanyalah sekumpulan kayu yang menjulang dari tanah, menumbuhkan dedaunan hijau, dan menghasilkan buah-buah yang kaya akan kenikmatan.

“Hei, apakah itu menara?” tanya Han, “kita bisa istirahat sejenak. Kurasa sebentar lagi kita akan mencapai tujuan.”

Menara berwarna putih yang dilihatnya menjulang di antara pepohonan. Mereka melangkah lebih cepat hingga keluar dari lebatnya pepohonan, menuju tanah luas. Mereka bertiga mencapai sebuah pondokan berwarna putih, menempel dengan menara. Di samping menara, sebuah kincir air berwarna coklat sedang diputar oleh air untuk menggiling bahan-bahan. Sebuah lentera tergantung di atap teras, memancarkan api kuning-merah.

“Kita bisa memasukinya,” ucap si kecil Hannetje.

“Apakah tiada orang yang menempatinya?” Hans bertanya. “Kita harus tetap berjaga.”

Han berjalan menghampiri pintu berkenop logam yang memisah daerah luar dan dalam bangunan. Dia menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri, memeriksa keadaan di sekitar. Setelah memastikannya, tangannya mulai memutar kenop—awalnya ke kiri dan kemudian ke kanan. Dengan tenaga kecil, Han mendorong pintu tersebut terbuka. Dua kursi dan sebuah meja bundar setinggi setengah badannya hadir di depan matanya, di sisi kiri ruangan. Sebuah piring tergeletak di atasnya, mewadahi dua ekor ikan yang telah dipanggang.

Han memberi isyarat kepada yang lainnya untuk masuk. Mereka bertiga masuk lebih dalam menuju ruangan. Selain meja dan kursi-kursi, ruangan itu mempunyai cerobong asap, lemari kaca, dan lukisan tiga anak kecil dengan satu senyum di tiap wajah mereka. Hannetje menghampiri lemari kaca di sisi kanan rumah. Lemari itu menyimpan banyak barang seperti piring, gelas, dan dua boneka kayu. Matanya terpaku kepada boneka kayu. Dua boneka berbentuk manusia itu memiliki kulit berwarna putih dengan hidung panjang. Boneka perempuan menggunakan baju berwarna biru kotak-kotak berkancing dengan rambut keriting berwarna coklat memanjang hingga bahu. Yang laki-laki memakai baju merah muda dengan tiga kancing di dekat leher. Rambutnya berwarna hitam.

Hans mendekati meja berpiring tersebut. Asap kecil masih membumbung dari tubuh sang ikan. Hans bersigap seketika, “Hey, ikan ini baru dibakar. Pemiliknya mesti baru saja membakarnya dan mungkin sedang keluar. Tetap waspada.”

Han yang berada di mulut pintu masih memandang seisi rumah, khususnya ruangan utama. Dia langsung bersiap, mengambil langkah siaga, memasang mata waspada. Hannetje masih terpaku pada barang yang di dalam lemari. Dia memanggil Hans dengan santai, layaknya anak kecil, “Tolong ambilkan boneka itu.” Jarinya menunjuk ke arah lemari.

Suara Hannetje mengagetkan dua lainnya. Jari telunjuk kanan Hans terangkat menyentuh bibirnya sendiri; mengisyaratkan untuk diam namun terlambat. Seorang lelaki paruh baya hadir, masuk melalui pintu depan. Tangannya menyentuh pundak kanan Han; membuatnya kaget seketika. Semua bertiga bersiaga. Reaksi ini ditanggapi oleh si lelaki dengan menggerakkan kedua tangannya, menandakan untuk tidak khawatir. Si lelaki berjalan menuju lemari yang sebelumya ditunjuk oleh Hannetje. Dia membukanya dan mengambil dua boneka kayu laki-laki dan perempuan itu. Di bagian belakang boneka, terdapat rongga untuk menggerakkan sang boneka. Sang lelaki adalah seorang ventriloquist, setidaknya itu yang Hans pikirkan.

“Maafkan kami telah membuat kalian terkejut,” sebuah suara keluar dari mulut, memperkenalkan diri. “Nama dia Siebren dan temanku ini Olivië. Aku sendiri adalah Pepin.”

Han, Hans, dan Hannetje mulai kebingungan. Sang lelaki tak menunjukkan pergerakan di mulutnya. Sang bonekalah yang berucap. Boneka laki-laki. “Beragam kisah telah membangun hidupnya pria aneh ini. Bukan begitu, Olivië?”

“Kau benar, Pepin,” sahut Olivië si boneka perempuan. “Siebren adalah seorang pembunuh mematikan sebelum dia hidup seperti ini.”

Masa lalu adalah alasan Siebren melakukannya. Melihat dirinya dan ibundanya diperlakukan tak pantas oleh ayahnya membuat hatinya terluka. Melihat sang ayah melempar ibunya ke dasar jurang membuat hatinya hancur tak bersisa. Melihat ayahnya tewas keracunan membuat sesimpul senyum di wajahnya. Hampir seluruh korbannya adalah para orang tua yang berlaku kejam kepada anaknya seperti menelantarkan dan menganiayanya. Kecermatan membuatnya selalu waspada akan segala hal. Kepandaiannya dalam mendengar desas-desus berhasil mengumpulkan para sasaran dengan rapih. Ketetapan membunuh datang jika si calon korban terbukti melakukannya. Tak ada hukuman yang dapat menghukumnya selain main hakim sendiri.

Di saat pencariannya masih gencar dilakukan, panti-panti asuhan mulai kedatangan sekumpulan karung berisi uang, uang yang banyak, dan beberapa anak yatim piatu korban kekerasan. Mereka pun mulai mengembangkan lembaga mereka seperti memperluas bangunan, berbisnis, dan bantuan pendidikan. Panti asuhan, yang dulu membutuhkan, sekarang menjadi yang dibutuhkan oleh orang-orang.

Hingga lima tahun lalu, Siebren bersembunyi di dalam pepohonan; seorang bangsawan dan istrinya sebagai sasaran selanjutnya. Mereka berdua dikawal oleh beberapa personil bersenjata. Pistol telah dikokang, dibidik, dan pelatuk siap ditarik oleh tangan kiri Siebren. Namun, sebuah peluru terlebih dulu melesat ke tangannya, melepas dan menjatuhkan pistolnya ke tanah. Dia melihat kesana-kemari, mencari si penembak. Tangan kanannya masih menahan rasa sakit di bagian kirinya. Suara tembakan menggelegar tadi menarik perhatian rombongan. Mereka segara menghampiri asal suara itu.

“Lihat apa yang kita dapat, Tuanku,” saut salah satu pengawal. “Sang hantu.”

“Penyihir, kau tahu apa yang harus kau lakukan,” perintah sang bangsawan.

Satu di antara para pengawal maju, berjalan dengan santai. Rapalan mantra pun dimulai.

BERSAMBUNG

KENANG

Tuan, saya menulis ini sembari menatap foto kita. 2019, dua tahun lalu, di sebuah pameran lukisan. Kamu menjemput saya pukul tujuh malam. “Pakai motor saja, ya. Saya tidak boleh bawa mobil kalau malam-malam,” katamu. Padahal saya memang lebih suka kita pakai motor karena saya suka menatap punggungmu. Saya suka menepuk pundakmu saat kamu menyetir telalu ngebut. “Hati-hati!” kata saya, walaupun saya tahu kamu selalu hati-hati. Saya juga tahu tanganmu kuat, peganganmu selalu erat.

Sesampainya di pameran, Tuan, kamu selalu di belakangku. Mengawasiku yang berkeliling menatap lukisan ini lukisan itu, balik lagi ke tempat yang sebelumnya, cekrek sana cekrek sini. Dan cekrek! Kamu mengambil foto saya yang sedang berburu lukisan abstrak. Saya marah karena saya tidak cantik di foto itu. Kamu tersenyum. “Kamu selalu sempurna di mata saya, seperti apapun ekspresimu.”

Seperti anak kecil, saya keliling sana keliling sini. Kamu masih mengawasi, berdiri di belakang, sembari melihat-lihat lukisan di dekatmu juga. Kamu bawakan jaket dan tas saya, supaya tidak kerepotan lari-larinya, kamu berkata. Lalu, kamu juga datang sambil membawa minuman. Aih, daripada seorang kekasih, kamu malah seperti malaikat pelindung bagi saya.

“Kamu haus.”

Saya tersenyum. Kamu selalu tahu, bahkan ketika saya tidak tahu akan kondisi saya sendiri.

Tak lama, saya kemudian menghampirimu. “Ada lukisan bagus yang saya suka!”

“Hah? Mana?” Kamu langsung penasaran. Katamu, selera seni saya selalu bagus. Kamu juga berkata bahwa tangan saya yang suka melukis ini seperti penyihir yang bisa membentuk gambar apa pun di atas media kertas maupun kanvas. Kamu juga punya beberapa lukisan saya. Bawa pulang, saya melukis ini untukmu.

Kita berdiri, berdampingan menatap lukisan abstrak itu. Lukisan Bali, walau abstrak, masih terasa nuansa barong-barongnya.

“Saya tidak bisa berkata-kata dengan seleramu, Ken.”

Ya, kita saling memanggil Ken. Aku juga memanggilmu Ken. Ken Arok dan Ken Dedes (tapi dalam kasus ini, tidak ada Tunggul Ametung maupun anak-anak yang saling perang saudara).

“Berapa, ya?”

“Ken mau? Saya belikan, ya?”

“Pasti mahal.”

“Ken, saya pernah bilang ke kamu. Ingat, tidak? Kamu mau apa, tolong katakan. Apapun yang kamu mau, kalau saya mampu untuk itu, saya belikan, Ken.”

“Bagaimana kalau ratusan juta?”

“Saya masih punya milyaran.”

“Jangan ngaco!” saya menoyor bahumu. Kamu tertawa, walaupun nadanya seperti bercanda, saya tahu kamu jujur mengatakannya.

“Jangan, tidak usah,” ucap saya.

“Kamu menyukainya. Saya akan beli untuk kamu. Tunggu di sini.”

Kamu memberiku botol air minum, menyuruhku duduk, lalu kamu menghilang. Dari arahmu berjalan, kamu mencari panitia pameran. Dapat. Kamu membawa panitia itu ke tempat saya.

“Yang ini, Mas?” tanya panitia tersebut.

“Tanya kepada Nona Manis ini, Mbak.”

“Yang ini, Mbak?” Saya langsung melirikmu dan mengerutkan dahi.

“Ken, saya bilang tidak usah,” ucap saya tidak enak. Kamu memegang pipi saya, lalu berkata dengan lembut. “Terima, Ken. Kalau dikasih itu diterima.”

Kalau kamu sudah bilang begitu, saya tidak bisa menolak lagi.

“Yang itu, Mbak.” Aku menunjuk lukisan dengan cat akrilik tadi.

“Satu lagi, ya? Yang mana?” tawarmu.

“Tidak mau. Kalau kamu memaksa, saya mau pilih satu lagi, tapi itu punya kamu.”

“Ya, boleh.”

Saya menunjuk lukisan dengan cat akrilik lagi dan bertemakan abstrak. Masih bisa ditebak kalau lukisan itu bernuansa pasar tradisional zaman dahulu.

“Ken, kamu duduk lagi, ya? Saya akan mengurusi pembayaran dulu.”

“Kamu habis berapa, Ken?” tanya saya setelah kamu kembali dan kamu hanya tersenyum.

“Tau gini saya bawa mobil,” katamu lagi beberapa saat kemudian, sambil kerepotan membawa dua kardus berisi dua lukisan yang barusan kamu bayar.

“Katanya nggak boleeeeh?”

“Boleh aja sebenernya. Cuma agak sulit.”

“Sulit kenapa?”

“Gak bisa kamu peluk dari belakang,” katamu, lalu menepuk-nepuk kepala saya.

Akhirnya, karena kerepotan membawa dua lukisan dan takut rusak juga, kita inisiatif untuk memakai jasa pengiriman. Masalah beres.

Lalu, tahun berikutnya, 2020. Kita ke pameran lagi.

“Beli lagi boleeeh,” ucapmu.

“Kamu nuyul, ya? Gila apa uang gak habis-habis,” ucap saya ngasal.

“Yang kaya Ayah saya. Saya kena cipratannya sedikit.”

“Cipratanmu nyiprat ke saya lagi.”

Kita tertawa. Lalu, di depan lukisan yang lagi-lagi abstrak—memang saya suka sekali dengan lukisan abstrak—kamu menatap saya.

“Ken, kamu ingat kan, kenapa saya banyak memberimu barang?”

Ya, kamu memberi saya banyak barang. Buku-buku, pensil warna, cat air, kanvas, dan seterusnya. Well, saya juga memberimu banyak barang. Tapi seperti yang kamu minta, barangnya yang kecil-kecil saja biar mudah dibawa ke mana-mana. Saya memberi kamu gantungan kunci dari resin berisi kupu-kupu, lukisan-lukisan saya, coretan puisi, syal yang saya rajut sendiri, files cerpen-cerpen tulisan saya, dan benda-benda kecil lainnya. Harganya sangat tidak sebanding dengan yang kamu beri, tapi katamu, barang-barang yang asli buatan saya harganya melebihi sebuah pulau.

Iya, hadiah-hadiah saya kecil, biar mudah kamu bawa ke Amerika, kan?

“Bulan depan kamu berangkat.”

Saya merindukanmu. Tahun ini, pameran lukisan diadakan bulan depan. Saya akan pergi sendiri tanpamu, Tuan.

28 Oktober 2021

Ken Canberra Fana

KISAH SI ONZEKER

Oleh: Nastiti

Hai!

Perkenalkan, namaku Onzeker[1].

Jujur, aku senang sekali mendapatkan kesempatan ini untuk berbagi sepotong kisah keluh kesahku. Mungkin, sebagian dari kalian ada yang mengalami hal serupa denganku. Yah… aku sebenarnya tidak mengharapkan lebih, aku hanya ingin sekadar bercerita saja untuk melepas rasa lelahku.

Oke, begini ceritaku…

Hari dan bulan itu, aku bertemu dengan dia yang bernama Ondergang.[2] Aku pikir, aku akan senang bertemu dengannya, tetapi ternyata dia adalah gerbang utamaku menjadi seorang yang probleem maken[3]. Ondergang benar-benar membuatku jatuh saat itu. Apalagi, setelah dia memberikan penilaian tentang kenyataan yang telah aku hadapi.

Aku tak bisa melukiskan perasaanku saat itu.

Sehari bersamanya telah membuatku sedih.

Aku berusaha menahan air mataku, tetapi aku tidak bisa memaksakannya lagi. Oke… aku tidak punya pilihan lain selain membiarkannya mengalir, membasahi pipiku. Aku merasa sesak dan sulit untuk berbicara. Ya udah sih, cuman hari ini aja kok, besok juga biasa lagi. Aku berusaha menguatkan diriku karena memang masih ada hari esok ‘kan?

Eh, tapi…

Kayaknya aku salah besar deh.

Di hari berikutnya, aku membuat kesalahan lagi. Aku lupa menyelesaikan yang sudah seharusnya aku selesaikan. Kali ini, hanya aku, tidak ada yang lainnya. Minggu berikutnya, aku membuat masalah lagi dan lagi. Aku telah membuat seseorang yang berhati lembut menjadi kecewa. Ada apa denganku? Kenapa aku selalu saja membuat kesalahan?

Akhirnya, aku sadar bahwa aku telah menjadi probleem maken.

Setiap malam, sebelum tidur, air mata adalah ‘obat penenang’ yang pasti aku konsumsi. Dengan suasana kamar yang gelap, aku menutup wajahku dengan bantal. Aku tidak ingin seorang dari keluargaku mengetahui hal ini. Aku tidak mau membebani mereka dengan penderitaanku.

Aku teringat dengan Ondergang dan kesalahan bodoh yang telah aku lakukan. Bukan hanya itu, aku juga teringat dengan kebahagiaan dan kelebihan yang dimiliki oleh teman-temanku. Beruntung sekali mereka, enak ya jadi mereka. Mahir dalam bidang apa saja. Good looking. Disukai banyak orang dan aku yakin mereka pasti bisa mencapai impian mereka, yang mana itu juga impianku.

Malam itu, aku merasa dilempar ke sebuah jurang yang sangat dalam dan gelap. Tidak ada yang menolongku dan aku juga tidak bisa menolong diriku sendiri. Hanya gema dari jeritan yang meyertaiku.

Onzeker memang pantas menerima semua ini. Aku men-judge diriku sendiri.

Aku sudah kehilangan harapan,

                 Dan aku tidak melihat keindahan sedikit pun di depan sana.

Sepertinya, aku harus melakukannya.

Terlintas di kepalaku untuk mengakhiri hidup, entah dengan pisau atau seutas tali. Sepertinya, hatiku lebih terpikat dengan sebilah pisau. Jangan khawatir, aku tidak langsung melakukannya, kok. Aku masih berpikir panjang. Coba enggak, ya? Tinggal ambil aja, ‘kan di dapur? Eh, kayaknya enggak deh, soalnya aku belum benar-benar berakhir setelah mendarat di dasar jurang ini. Aku membuka mata perlahan dan melihat sebuah cahaya, yah… walau itu sangat kecil seperti satu bintang yang sendirian di langit malam. Aku mencoba membangun harapan itu kembali. Namun, entah mengapa aku merasa lelah dan tidak mampu untuk bangkit.

Istirahat bentar dulu kali, ya?

Oke deh.

Beberapa hari setelah istirahat, aku masih merasa lelah. Aneh, aku ‘kan sudah beristirahat, kenapa aku masih saja lelah? Oh, jangan-jangan kali ini aku sudah sungguh kehilangan harapanku? Ah… ternyata itu benar.

Udah ya, Onzeker, enggak usah kebanyakan berharap lagi pengen ikut ini-itu kayak teman-teman kamu. Mending kamu jauhin ‘tuh mereka, soalnya kamu enggak sebanding sama mereka. Sebaiknya, kamu habiskan saja air matamu, jangan biarkan ada yang tersisa.

Benar, aku memang sebaiknya mati saja. Aku yakin, jika aku mati, mereka semua akan menangisi kepergianku. Dan, memang itu yang aku inginkan dalam hidupku. Oke… aku akan menguras air mataku sampai hembusan napas terakhir.

Tiba-tiba…

Kepalaku menjadi sakit. Aku kira hanya hari itu saja.

Tapi, hal yang sama terjadi setiap aku menangis.

Aduh… kenapa, ya?

Ini sungguh menyiksaku.

Aku menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Aku menenangkan diriku sejenak. Pikiranku kembali melayang, aku teringat dengan Geluk[4]. Meskipun dia sudah lama tidak menemuiku, Geluk membuat aku tersenyum sedikit. Aku mengingat kenangan indah yang telah aku lalui bersamanya. Aku mulai tertawa kecil. Terakhir aku bertemu dengannya, dia berkata,

Onzeker, kamu kalau capek, istirahat dulu ya. Enggak cuma fisik aja tapi mental juga butuh istirahat. Jangan sakitin diri sendiri, kasihan tubuh yang enggak salah malah dijadiin pelampiasan. Satu lagi… jangan sekali-sekali kamu meminta kematian kepada-Nya. Ketahuilah, Dia sangat menyayangimu.”

Aku kerap mengharapkan kematian. Aku sudah lelah.

Namun, dunia ini bukanlah ‘tempat istirahat’ sesungguhnya.

Lalu…

Secara samar, aku mendengar seperti ada suara lembut yang berbisik, “Kamu sudah hidup sejauh ini. Sabar… bertahanlah sedikit lagi. Bisa jadi, Dia mungkin sedang mempersiapkan akhir hidup yang indah untukmu.”

Alarm hatiku berdering dengan keras. Aku tersadar, memang hidup tidak ada yang selalu indah. Aku lalu mengubah mindset-ku tentang arti hidup yang sebenarnya. Ini adalah proses pendewasaan untuk diriku, misschien[5]. Kini, aku mulai berpikir bahwa Ondergang adalah sosok yang melatihku untuk menjadi sterk[6].

Entah bagaimana pendapat kalian mengenai ceritaku ini, tetapi Onzeker sekarang sudah merasa lebih baik dengan menuliskannya di sini. Terima kasih untuk kalian yang telah membaca cerpen dari Onzeker.

Als jullie hebben een probleem, vertel maar.[7]

Don’t forget to praying everyday.

Stay strong and always love yourself.

-Tamat-


[1] Onzeker (Tidak percaya diri)

[2] Ondergang (Kehancuran)

[3] Probleem maken (Membuat masalah)

[4] Geluk (Kebahagiaan)

[5] Misschien (Mungkin)

[6] Sterk (Kuat)

[7] Als jullie hebben een probleem, vertel maar (Jika kalian punya sebuah masalah, ceritakan saja)

ANTON

Door: Eleanor

“Apa ketakutan terbesar lu?”

Sunyi. Seketika Mirna terdiam dalam lamunan. Ketakukan terbesar? Semua orang tahu, Mirna itu Si Pemberani. Mirna tidak memiliki rasa takut. Tidak seperti Anton—lawan bicaranya pada saat ini—yang takut pada kecoa, Mirna sama sekali tidak takut akan hal itu. Mirna juga heran, mengapa Anton takut pada kecoa? Kecoa tidak menggigit, tidak berbisa, tidaklah buas, tidak juga memiliki gigi taring yang super duper menakutkan. Apa seramnya seekor kecoa? Bahkan, menurut Anton, kecoa berubah menjadi sangat duper dan super menyeramkan saat terbang. Bukan hanya Anton yang takut kecoa dan beranggapan kecoa terbang itu menyeramkan. Teman-teman Mirna yang lain juga ada yang merasakan hal yang sama seperti Anton.

Teringat Mirna pada kejadian satu minggu yang lalu. Anton dan teman-teman kelas Mirna dihebohkan oleh kecoa yang tiba-tiba memasuki ruang kelas. Entah dari mana pula asalnya, Mirna juga bingung. Yang jelas, kehadiran kecoa itu cukup membuat satu kelas geger dan suasana kelas menjadi tidak kondusif. Semua berawal dari teriakan Karin yang duduk paling dekat dengan pintu depan kelas.

“AAA! KECOA!” Teriakannya Karin yang refleks membuat perhatian satu kelas beralih padanya. Karin mengangkat kakinya ke atas kursi dan memeluk Nur teman sebangkunya.

Seakan tidak merasa bersalah, kecoa tersebut terbang ke sana kemari, hinggap di satu kepala ke kepala yang lain. Anton—yang dikenal cukup berwibawa—juga menjadi korban. Kecoa tersebut hinggap di kepala Anton yang membuat Anton teriak ketakutan. Lenyaplah sudah wibawa itu. Satu kelas yang tadinya geger justru malah tertawa melihat Anton. Mirna juga tak kuasa menahan tawa melihat muka ketakutan Anton. Tak tega melihat Anton menjadi bahan tertawaan kelas, Mirna mengambil kecoa yang ada di kepala Anton. Yak! Seisi kelas merasa takjub melihat keberanian Mirna dan muka datar Mirna. Mirna terlihat sama sekali seperti tidak ada beban memegang seekor kecoa. Tak lupa, Mirna meminta izin pada Ibu Munir untuk membuang kecoa tersebut.

Sebelum membuang kecoa tersebut ke dalam tong sampah, Mirna perhatikan lamat-lamat kecoa tersebut. Mengapa orang takut sama lu, ya? Mirna bertanya-tanya dalam hati.

Tersadar dari lamunan, bukan malah menjawab pertanyaan Anton, Mirna malah balik bertanya.

“Kenapa lu takut sama kecoa?”

Anton memutar bola matanya, terlihat kesal akan respons Mirna. “Lah, malah balik nanya.”

“Gue bingung mau jawab apa.”

“Lu ga punya ketakutan sama sesuatu gitu? Ketakutan itu hal yang lumrah. Punya ketakukan bukan berarti lu orang yang lemah.”

Mirna merasa seperti tersindir akan perkataan Anton. Mirna memang bukan orang yang ekspresif. Mirna tidak pernah mengungkapkan dan menunjukkan emosi dan perasaannya ke orang lain. Mirna dikenal dengan orang yang cuek dan datar. Selain itu, teman-teman Mirna selalu menjuluki Mirna Si Pemberani. Mirna tidak takut pada seekor hewanpun. Mirna juga berani dalam mengambil resiko. Mirna tidak takut pada ulangan, ujian dan pembagian rapor. Mirnapun tidak takut dalam presentasi, tampil atau mengemukaan pendapat di depan kelas.

Barangkali selama ini Mirna beranggapan bahwa ketakutan adalah kekurangan. Mirna sejak kecil sudah didoktrin akan hal itu. Orang tua Mirna menekankan untuk tidak boleh merasa takut. Orang yang penakut adalah orang yang lemah. Rasa takut hanya menghambat seseorang untuk berkembang. Tidak ada yang perlu ditakutkan dalam hidup. Jadilah hingga kini, Mirna selalu mengesampingkan rasa dan mengutamakan logika.

Akan tetapi, dibalik itu semua, Mirna tidak luput dari mimpi-mimpi buruk yang kerap sekali dua kali mampir dalam tidurnya. Hal ini membuat Mirna terkadang overthink dan sedikit parno. Mirna selalu memiliki cemas berlebih ketika ingin tidur. Enggan bila sewaktu-waktu ia terlarut dalam tidur, mimpi-mimpi buruk itu kembali dan merusak istirahatnya. Tidak ada yang mengetahui hal ini. Bahkan, Ayah dan Ibu Mirna sekalipun. Menurut Mirna, perasaan ini aneh dan tidak terlalu penting untuk dibicarakan. Tapi, tidak ada salahnya kan Mirna bertukar pikiran akan hal ini dengan Anton?

“Gue gatau, sih. Tapi, gua pengen banget, setiap malem, ngga usah mimpi.”

“Lah? Kenapa? Gue malah pengen mimpi tiap malem. Masa tiap tidur gua ngga ada mimpi apapun? Hampa banget. Kosong gitu.”

“Um, gue males mimpi. Abisnya, tiap gue mimpi, pasti mimpi buruk terus.”

Anton terdiam. Ini pertama kalinya dalam sejarah, Mirna mengungkapkan hal yang tidak lazim alias Mirna tidak pernah seterbuka ini.

“Mimpi buruk?”

“Iya, mimpi buruk.”

“Mimpi buruk dalam artian ‘demit’, gitu?

“Bukan.”

“Jadi?” Anton tidak kuasa menahan rasa penasarannya.

“Gue selalu mimpi buruk. Mimpi kehilangan orang-orang yang gue sayang.” Mata Mirna mulai berkaca-kaca. “Kadang, gue takut kalo sewaktu-waktu, mimpi gue kejadian. Gue juga takut dan selalu overthink tiap malem. “Gimana misalnya hari ini gue mimpi buruk lagi?” Gue selalu mengesampingkan perasaan ini dengan logika yang gue punya. Karena itu gue selalu beranggapan kalo rasa takut itu kelemahan.” Anton speechless melihat Mirna seperti ini. Ini pertama kalinya Mirna menunjukkan emosinya di depan orang lain. Mirna juga bingung kenapa dia justru malah sedih dan menangis? Tidak, tidak! Mirna bukanlah seorang yang cengeng. Mirna dengan cepat mengusap air mata sebelum jatuh membasahi pipinya.

“Mirna, lu harus tau, it’s okay to not be okay.” Benar. Harusnya Mirna tidak perlu sekeras ini ke diri sendiri. “Takut kehilangan itu normal. Semua orang pasti punya rasa takut ini, kok! Nyatanya, emang ga ada yang abadi di dunia ini, Mir.” Anton berusaha menenangkan.

“Kalo menurut lu rasa takut itu kelemahan, lu ga salah, kok! Tapi, lu juga harus tau ketakutan yang lu punya juga bisa dijadikan kelebihan. Contonya, karena rasa takut yang lu punya, lu jadi lebih aware ‘kan tentang masa depan?”

***

Anton benar. Ketakutan tidaklah seburuk itu. Semua tergantung dari sudut pandang yang mana kita memandang. Mirna tersenyum memandang makam Anton yang ditutupi rerumputan hijau nan rapih tersebut. Barangkali percakapan tersebut tidak pernah terjadi sebelumnya dalam hidup Mirna, mungkin hingga kini ia masih belum bisa menerima kepergian Anton setahun yang lalu. Mirna meletakkan buket bunga yang dibelinya di perjalanan tadi di atas makam Anton.

Sampai sini dulu kunjungan gue hari ini. Terima kasih, Anton!

Foto door NordWood Themes op Unsplash

Suatu Hari di Tahun 2021

Door: Ni Putu Diah Asyanti 

Saat ini pukul enam pagi. Udara yang masih sejuk dan sedikit berembun membuat pagi ini lebih terasa segar. Di tengah-tengah keheningan pagi, terdengar deru mesin motor yang melintas di jalan yang lengang, nampak berburu untuk memulai hari pada tujuan masing-masing. Selain itu, terdengar ibu-ibu kompleks yang saling menyapa dengan lisan yang tertutup masker. Sebelah tangan mereka menjinjing plastik berisi sayuran yang nampaknya siap untuk dimasak. Berbagai hal dapat menjadi bahan perbincangan ibu-ibu yang saling sapa di tengah jalan ini, mulai dari keluarga, tetangga, kuliner, bahkan sampai episode terbaru keluaran sinetron terkenal. Aku mengulum senyum, dalam benak, kudoakan ibu-ibu ini agar selalu dalam lindungan Tuhan.

Jika berbelok ke arah kiri, kita akan menjumpai SD Madrasah yang di depannya terdapat satu keluarga (iya, satu keluarga! Karena ayah, ibu, dan seorang anaknya berada di sana) yang berjualan nasi uduk, gorengan yang masih hangat, serta lontong sayur. Sebelum pandemi menguasai dunia, dagangan mereka biasanya sudah habis pukul setengah delapan pagi. Adapun dagangan dari keluarga itu habis diburu oleh murid SD yang belum sempat sarapan, orang tua yang mengantar anaknya, guru-guru yang ingin mencari sarapan praktis, sampai mahasiswa yang meminta pesanannya dibungkus agar bisa dimakan sambil membaca bahan kuliah. Namun akhir-akhir ini, keluarga kecil penjual sarapan pagi ini harus menunggu sedikit lebih lama hingga dagangan mereka ludes terjual. 

Usaha sarapan pagi milik keluarga ini memiliki kompetitor. Berdiri sebuah warkop 24 jam tepat di sebelah SD Madrasah. Warkop ini biasanya dijadikan tempat nongkrong bagi anak SD yang sedang ingin minum berbagai jenis minuman instan, tukang dagang keliling yang singgah untuk memesan kopi, hingga mahasiswa yang ingin memakan mie dalam berbagai bentuk: dari rebus, goreng, sampai dicampur dengan nasi atau biasa disebut magelangan. Namun, saat pandemi ini, mereka tidak buka 24 jam dan hanya buka saat sore hingga malam hari. 

Entah kapan pandemi ini berakhir, tapi, aku benar-benar rindu pagi hari sebelum pandemi. Cuaca yang jauh lebih segar ini tak bisa menggantikan suasana hari-hari normal sebelum pandemi, waktu di mana aku bisa melihat anak-anak SD bermain dengan rekan sebaya mereka, ibu-ibu dengan senyum merekah yang berbincang tanpa penutup mulut serta tanpa berjaga jarak karena saling waspada, hingga sesama mahasiswa yang berjalan dengan langkah lebar menuju kampus tercinta.

Andai bisa kembali.

Foto door Fang-Wei Lin op Unsplash

Merajut Aksara

Door: tiramissusweet

Kala itu aku gusar. Ayah, mengapa aku berbeda dari yang lainnya? Ketika di sekolah, teman-temanku sangat pandai merangkai aksara mereka, mengapa aku tidak? Hal itulah yang membuatku takut untuk pergi ke sekolah. Orang-orang bilang aku pandai bicara dan cerewet. Tapi ketika aku dihadapkan dengan aksara-aksara itu, gelisah bukan main badan dan pikiranku ini. Entah kenapa begitu, aku juga tidak tahu apa yang sedang terjadi olehku dengan aksara-aksara itu, pusing aku dibuatnya.

Continue reading “Merajut Aksara”